Logo Suma

Rilis Pers: Diskusi Publik “Kampus Makara di Masa Pandemi” Dalam Rangka Peluncuran Buletin Gerbatama Edisi 87

Redaksi Suara Mahasiswa · 19 Juni 2021
3 menit · - kali dibaca
Rilis Pers: Diskusi Publik “Kampus Makara di Masa Pandemi” Dalam Rangka Peluncuran Buletin Gerbatama Edisi 87

Dalam rangka peluncuran Gerbatama edisi ke-87, Pers Suara Mahasiswa UI menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Kampus Makara di Masa Pandemi” pada Sabtu (19/6). Diskusi diselenggarakan melalui Zoom dan Kanal Youtube Suara Mahasiswa UI pada pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB. Diskusi kali ini dihadiri oleh beberapa narasumber yaitu Prof. Dr. Abdul Haris selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Dr. Tito Latif selaku Direktur Kemahasiswaan UI, Ikhlas Tawazun selaku Koordinator Bidang Kemahasiswaan BEM UI 2021 dan Dewi Wulandari sebagai Local Directors HopeHelps UI.

Buletin Gerbatama merupakan salah satu produk jurnalistik Pers Suara Mahasiswa UI yang dirilis setiap tahunnya dengan membawa tema-tema terhangat dan terkini. Namun, produksi Buletin Gerbatama sempat dihentikan pada tahun 2020 dan kembali lagi dirilis tahun 2021 ini. Dirilis dalam situasi pandemi yang masih belum usai, Buletin Gerbatama edisi 87 pun mengangkat isu-isu hangat di Universitas Indonesia selama pandemi. Tema dalam Gerbatama, yaitu UI di Tengah Pandemi menginspirasi dalam pembuatan judul Buletin Edisi 87 ini, yaitu “Kocar Kacir UI di Tengah Pandemi”. Tema ini menjadi pembahasan yang menarik ketika membahas isu seperti UKT, pembelajaran jarak jauh, blended learning, kekerasan seksual di kampus serta kebebasan akademik yang juga menyinggung diskusi publik mengenai Papua.

Prof. Dr.rer.nat. Abdul Haris dalam pemaparannya, menyatakan bahwa UI telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk meminimalisir dampak dari covid-19. Diantaranya adalah kebijakan pembelajaran daring dan evaluasi BOP mahasiswa. Beliau menuturkan bahwa pembelajaran daring mendorong adanya akselerasi digitalisasi layanan akademik. Sementara itu, kebijakan evaluasi BOP dilakukan melalui subsidi silang untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan. Beliau sempat menyinggung preferensi pendidik dan mahasiswa terhadap Blended learning, pembelajaran campuran dari luring dan daring.

Menurut Abdul Haris, pandemi mendorong kita untuk adaptif dan merespon terhadap perubahan bukan sebagai halangan untuk berprestasi. Ia kemudian menyebutkan bahwa peluncuran Gerbatama oleh Pers suara mahasiswa UI merupakan salah satu contoh prestasi mahasiswa ditengah pandemi. Menurutnya, Gerbatama semacam penegasan bahwa pemikiran mahasiswa tidak dapat dikekang meskipun berada di rumah saja. “Di tengah situasi yang serba tak ideal dan kondisi fisik mahasiswa yang “terpenjara” karena pandemi, UKM Suara Mahasiswa UI dapat menerbitkan majalah gerbatama untuk berbagi pemikiran dan isu-isu terkini di tengah mahasiswa,” Ujar Abdul Haris.

Selanjutnya, Ikhlas Tawazun selaku Koordinator Bidang Kemahasiswaan BEM UI 2021 memaparkan peran BEM UI dalam advokasi kebutuhan mahasiswa UI di masa pandemi. BEM UI menyampaikan bahwa hasil survei mengenai preferensi mahasiswa UI untuk pembelajaran bauran masih menunggu keputusan rektorat. Meskipun begitu, ada beberapa fakultas yang harus melakukan pembelajaran secara luring sehingga perlu menerima bantuan alat pelindung diri.

Kemudian Ikhlas menyatakan BEM telah melakukan beberapa audiensi, diantaranya adalah audiensi dengan bidang akademik dan kemahasiswaan serta mwa UI terkait biaya pendidikan. Ia sempat menyinggung kenaikan BOP secara sepihak. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa BEM UI dan aliansi akan terus mengawal evaluasi BOP di semester ganjil mendatang agar sesuai dengan tuntutan di awal semester.

Diskusi kemudian berlanjut membahas mengenai isu kekerasan seksual yang dinilai masih minim penanganannya oleh pihak universitas. Ikhlas Tawazun menyampaikan audiensi dengan RS UI sehingga mengetahui adanya pusat krisis terpadu yang salah satu peruntukannya adalah untuk pelayanan kasus kekerasan seksual. Selain itu, Ia menuturkan bahwa BEM UI juga telah berkomunikasi dengan HopeHelps dan sedang mendiskusikan kerjasama.

Menimpali ini, Dewi Wulandari selaku local directors HopeHelps UI menyinggung darurat kekerasan berbasis gender online (KBGO). Wulan memaparkan bahwa KBGO memiliki dampak pada psikologis, sosial, ekonomi hingga digital bagi penyintas/korban. Namun, isu ini sering dianggap tidak menimbulkan dampak yang “tampak” sehingga minimnya ruangnya aman bagi korban untuk melapor. Berdasarkan Wulan, Krisis Center di RS UI bukan untuk advokasi dan pendamping penyintas tapi jasa untuk visum dan psikologi.

Diskusi publik dan perilisan Buletin Gerbatama edisi 87 pada hari ini diharapkan dapat membuka mata kita semua mengenai bagaimana UI dan stakeholder terkait menghadapi pandemi Covid-19 ini. Selanjutnya, buletin ini dapat menjadi evaluasi dan pemantik solusi atau permasalahan yang terjadi di UI selama Pandemi berlangsung agar dapat disikapi dengan lebih baik lagi.

Teks: Humairah Nur Ramadilah
Foto: Dokumentasi Pers Suara Mahasiswa UI

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap