Logo Suma

26 Oktober: Hari Kanker Dunia, Yuk Kenali Kesehatan Payudara Sejak Dini

Redaksi Suara Mahasiswa · 27 Oktober 2021
4 menit

World Health Organization (WHO) pada tahun 2004, menyatakan bahwa 5 besar kanker di dunia adalah, kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus besar, kanker lambung, kanker hati. Setelah dilakukan survey, WHO menyatakan 8-9 persen wanita di dunia mengalami kanker payudara. Lalu, dalam kurun waktu lima tahun kebelakang, data WHO menunjukkan setidaknya 2,3 juta wanita terdiagnosis kanker payudara dan 685.000 mengalami kematian secara global.

Kemarin, tepatnya 26 Oktober diperingati sebagai Hari Kanker Payudara Sedunia. Hal ini diperingati dengan tujuan untuk mengedukasi dan menyebarkan awareness kepada masyarakat mengenai bahaya, penyebab, gejala, tindakan pencegahan, sampai pengobatan jika terkena penyakit kanker payudara.

Kanker payudara adalah salah satu penyakit tak menular yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Dilansir dari Jurnal Kesehatan Masyarakat FKM Undip, kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal yang berada di payudara dan terus tumbuh berlipat kali ganda, dan membentuk benjolan di payudara. Kanker payudara biasanya dimulai dari sel-sel di saluran penghasil susu, tetapi bisa juga muncul di sel dan jaringan lain di dalam payudara.

Menurut Dokter Umum Medical Check Up RSU Haji Surabaya, dr Dwiyana Ummul Fitri, "Gejala kanker payudara biasanya timbul benjolan di payudara, sering tidak nyeri, kulit bisa seperti kulit jeruk, puting susu bisa masuk kedalam, bisa keluar cairan darah atau puting susu bisa ada borok di payudara, pada perabaan benjolan tersebut padat, keras, batas tidak tegas." (Kominfo Jatim, 2021).

Dilansir dari BreastCancerNow, penyebab kanker payudara umumnya tidak tunggal, tetapi dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, gen, hormon, dan lingkungan. Contohnya, punya kebiasaan minum alkohol berlebihan, malas bergerak dan jarang berolahraga, memiliki kebiasaan merokok dan sering terpapar asap rokok, perubahan hormon karena mengonsumsi pil KB dan terapi hormon, ataupun faktor keturunan yang juga menderita kanker payudara.

Di Indonesia, kanker payudara merupakan kasus kanker yang paling banyak terjadi dibandingkan yang lainnya. Kasus kanker payudara di Indonesia, berkisar 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Lalu, tempat kedua diduduki oleh kanker serviks (leher rahim) sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus (WHO, 2019). Penyakit ini juga dapat diderita laki-laki dengan frekuensi sekitar 1%. 1 dari 8 wanita berisiko mengalami kanker payudara. Semakin dini kanker ditemukan, maka akan semakin baik. Hampir semua wanita yang mengetahui fakta mereka terkena kanker saat masih stadium I, dapat bertahan hidup 5 tahun kedepan. Hal itu pun berlaku bagi penyintas kanker payudara stadium II, sekitar 93% peluang untuk bertahan hidup. Lalu, bagi mereka yang berada di stadium III, hanya 72% peluang bertahan hidup, lebih parah lagi bagi mereka yang berada di stadium IV, peluangnya semakin menipis yaitu 22% karena upaya pengobatan sulit untuk dilakukan.

Untuk mencegah itu semua, diperlukan adanya pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang baik, agar pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara optimal. Dilansir dari Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK), ada dua macam pencegahan, yaitu pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer adalah usaha agar tidak terkena kanker payudara. Hal ini dilakukan dengan cara berusaha menghindari melakukan hal-hal yang mendorong terjadinya kanker, seperti yang sudah disebutkan diatas.

Kemudian, untuk pencegahan sekunder adalah dengan melakukan skrining kanker payudara. Skrining kanker payudara merupakan proses pemeriksaan untuk menemukan abnormalitas yang mengarah pada kanker payudara pada orang yang tidak mempunyai keluhan. Tujuannya, untuk menurunkan angka morbiditas akibat kanker payudara dan angka kematian. Oleh karena itu, kita dapat melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri), SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis), dan mammografi (foto payudara).

Dikutip dari Yayasan Kanker Indonesia, untuk melakukan SADANIS dan mammografi kita dapat pergi ke klinik atau rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan. Namun, sebelum itu kita dapat melakukan SADARI, berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  1. Lihat apabila ada perubahan bentuk, pembengkakan dan permukaan kulit dengan posisi tubuh berdiri tegak.
  2. Kedua lengan diangkat ke atas, tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala. Setelah itu dorong siku ke depan dan ke belakang sambil cermati bentuk dan ukuran payudara.
  3. Tempatkan kedua tangan pada pinggang dan condongkan bahu ke depan, kemudian kontraksikan otot dada.
  4. Lengan kiri angkat ke atas dan tekuk siku sehingga tangan kiri memegang bagian punggung atas. Dengan menggunakan ujung jari tangan kanan raba dan tekan area payudara, serta cermati seluruh bagian payudara kiri hingga ke area ketiak.
  5. Lakukan gerakan atas-bawah, gerakan lingkaran dan gerakan lurus dari arah tepi payudara ke puting, dan sebaliknya. Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan.
  6. Cubit kedua nipple. Cermati bila ada cairan yang keluar dan lakukan konsultasi ke dokter seandainya hal itu terjadi.
  7. Pada posisi tiduran, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Angkat lengan ke atas. Cermati payudara kanan dan lakukan tiga pola gerakan seperti sebelumnya. Dengan menggunakan ujung jari-jari, tekan-tekan seluruh bagian payudara hingga ke sekitar ketiak.

Selain melakukan skrining di atas, kita dapat mencegah kanker payudara dengan menjaga pola hidup sehat, membangun rutinitas olahraga yang baik, menjaga agar badan tetap sehat, menghindari meminum alkohol, dan yang terpenting adalah menjaga agar pikiran tetap positif dan tak berprasangka buruk kepada para penderita kanker payudara, karena sesama wanita harus saling mensuport.

"Breast cancer is not just a disease that strikes at women. It strikes at the very heart of who we are as women: how others perceive us, how we perceive ourselves, how we live, work and raise our families or whatever we do these things at all." - Debbie Wasserman Schult (Politician).

Teks: Magdalena Natasya
Ilustrasi: Istimewa
Editor: Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Referensi:

Afifah, Mahardini Nur. (2021). 10 Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya.https://health.kompas.com/read/2021/10/06/200100168/10-penyebab-kanker-payudara-dan-cara-mencegahnya (diakses pada 26 Oktober 2021)

Anonim. (2021). Antisipasi Kanker Payudara, Terapkan Pola Hidup Sehat. http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/antisipasi-kanker-payudara-terapkan-pola-hidup sehat#:~:text=Jatim%20Newsroom%20%2D%20Bulan%20Oktober%20merupakan,sebagai%20hari%20kanker%20payudara%20sedunia. (diakses pada 26 Oktober 2021)

Anonim. (2019). Penyakit Kanker di Indonesia Berada Pada Urutan 8 di Asia Tenggara dan Urutan 23 di Asia. http://p2p.kemkes.go.id/penyakit-kanker-di-indonesia-berada-pada-urutan-8-di-asia-tenggara-dan-urutan-23-di-asia/. (diakses pada 26 Oktober 2021)

Permatasari, Desi. (2021). Sejarah Hari Kanker Payudara Sedunia. https://kompaspedia.kompas.id/baca/infografik/kronologi/sejarah-hari-kanker-payudara-sedunia. (diakses pada 26 Oktober 2021)

Widowati, Hari. (2019). Kasus Kanker Payudara Paling Banyak Terjadi di Indonesia. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/06/03/kasus-kanker-payudara-paling-banyak-terjadi-di-indonesia. (diakses pada 26 Oktober 2021)

Yulianti, dkk.(2016). Faktor-Faktor Risiko Kanker Payudara: Studi Kasus Pada Rumah Sakit Ken Saras Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat,4(4), 401-402. https://media.neliti.com/media/publications/137682-ID-faktor-faktor-risiko-kanker-payudara-stu.pdf. (diakses pada 26 Oktober 2021)