Rendang merupakan salah satu olahan kuliner daging dengan cita rasa gurih pedas dan kaya akan rempah. Makanan ini berasal dari Sumatra Barat, tapi dapat juga kita temukan di berbagai daerah lain seperti Semenanjung Malaya dan Pesisir Timur Sumatra yang notabene mendapatkan pengaruh budaya Minang.
Rendang menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia yang telah mendunia. Media massa kelas dunia seperti CNN pun mengakuinya. Pada tahun 2017, masyarakat Indonesia dibanggakan dengan pengumuman rendang sebagai urutan teratas makanan terlezat di dunia. Laporan terbaru CNN Indonesia mengatakan bahwa rendang kembali lagi masuk ke dalam nominasi 50 makanan terlezat di dunia dan menduduki peringkat ke-11.
Tak hanya itu, rendang juga berhasil memikat salah satu juru masak kenamaan berkebangsaan Inggris, Gordon Ramsay. Ia dikenal sebagai salah satu juri acara lomba masak seperti Masterchef dan Hell’s Kitchen. Gordon mengadakan lawatan ke tanah Minang pada tahun lalu bersama pakar kuliner, William Wongso, untuk produksi tayangan serial Gordon Ramsay: Uncharted yang ditayangkan oleh National Geographic. Sebuah tayangan yang menunujukkan perpaduan lanskap alam sekaligus budaya Minangkabau, mulai dari prosesi makan bajamba, pacu jawi, dan proses memasak di Ngarai Sianok.
Sebagian dari kita mungkin hanya mengenal rendang sebagai suatu makanan wajib yang tersaji di berbagai Rumah Makan Padang. Tetapi, jika kita telusuri secara lebih dalam, rendang tidak hanya sekadar produk kuliner urang awak semata. Dilansir dari laman Tirto.id, rendang secara harfiah merupakan suatu proses atau cara memasak makanan secara perlahan dan dalam jangka waktu relatif lama, lebih kurang selama enam jam.
Dalam proses marandang tersebut terdapat nilai-nilai esensial yang dapat kita pelajari secara bersama. Pertama, kesabaran dalam menjalani suatu proses. Sebenarnya untuk menyiapkan bahan-bahan memasak rendang tidak memerlukan waktu yang lama. Proses paling lama terjadi ketika mengaduk bahan tersebut dan setelah semuanya tercampur di kuali. Butuh kesabaran yang tinggi dalam melakoni proses tersebut. Bukan hanya waktu yang menjadi persoalannya, tetapi juga tingginya suhu yang dirasakan ketika proses marandang tersebut.
Kedua, manajemen waktu yang baik. Claessen (2007) dalam Jurnal Anima Indonesian Psychological Journal, menyebutkan bahwa penggunaan waktu efektif pada suatu kegiatan tertentu dalam mencapai sebuah tujuan. Bahan-bahan yang tersedia tidak semuanya dimasukkan ke dalam kuali secara bersamaan. Ada waktu tertentu untuk memasukkan berbagai bahan tersebut, seperti daging yang dimasukkan ketika santan yang telah dimasak mengeluarkan minyak. Tujuannya menjaga agar daging tetap memiliki tekstur yang baik ketika dikonsumsi nantinya.
Terakhir, keuletan dan teknik yang tepat ketika mengaduk rendang. Kegiatan tersebut harus dilakukan dengan tepat agar daging tetap utuh dan tidak hancur. Ketika mengaduk rendang, kita mendorong daging secara hati-hati dan menjaga santan agar tidak cepat gosong.
Salah satu hal yang cukup unik tentang rendang mengenai filosofi dari bahan-bahan yang digunakan. Masakan ini terdiri dari tiga bahan utama seperti: daging, santan, cabai, dan rempah-rempah sebagai pelengkapnya. Bahan-bahan tersebut memiliki nilai filosofinya masing-masing (Buletin Al-Turas, 2017: 341).
Daging melambangkan unsur niniak mamak di Minangkabau yang diharapkan memberikan kesejahteraan bagi kamanakan. Mamak merupakan saudara laki-laki dari orang tua perempuan seorang anak di Minangkabau. Sementara itu, Niniak Mamak adalah dewan dari para penghulu atau mamak yang diberi gelar oleh kaumnya. Perannya sangat krusial sekali dalam menentukan berbagai kebijakan di suatu kaum, misalnya terkait harato pusako ataupun tanah ulayaik. Niniak Mamak dalam masyarakat juga memiliki posisi yang tinggi dan terhormat di masyarakat. Pada zaman dahulu, daging (terutama daging kerbau) tergolong ke dalam sajian mewah yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu dan pada peristiwa-peristiwa penting saja.
Lain halnya dengan karambia atau santan. Santan mewakili golongan cadiak pandai yang berada di tengah lingkungan masyarakat. Cadiak pandai merupakan sekumpulan orang yang dianggap memiliki intelektualitas yang tinggi dan diakui oleh masyarakat. Intelektualitas yang dimaksud bukanlah sebagaimana yang kita pahami sekarang, hanya diukur dari pendidikan formalnya semata dan kerap berkutat pada hal-hal yang teoretis. Di sini kita dapat melihat bagaimana seorang cadiak pandai mengetahui persoalan kehidupan masyarakat dan mengalaminya secara empiris. Mereka diharapkan memberikan petunjuk dan pengetahuan bagi kaumnya.
Selanjutnya adalah lado atau cabai yang menggambarkan kelompok keagamaan (ulama). Ulama juga memiliki peran yang sangat krusial di dalam masyarakat Minang sebagai orang yang menyampaikan syara’ atau hukum dalam istilah agama Islam. Di ranah Minang, agama tidak dipertentangkan dengan adat bersesuaian dengan falsafah adaik basandi syara’, syarak basandi kitabullah. Sebuah falsafah yang menjadi jalan tengah sekaligus konsensus hidup bersama antara kaum adat ataupun kaum padri setelah konflik berkepanjangan. Dalam Sejarah Kota Solok 1956-2018, Zaiyardam Zubir (2018: 48-49) mengatakan bahwa ajaran agama Islam merupakan adat nan sabana adat. Urang awak mengenalinya sebagai suatu hukum universal yang sudah tetap, ketentuannya tidak dapat diubah-ubah, dan tidak dapat dipungkiri keberadaanya. Sesuai dengan pepatah adat, “Indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh, adaik aie mambasahi, adaik api manghangusi.” Selain itu, Minangkabau terkenal sebagai penghasil sekaligus tempat bergurunya para ulama yang menyiarkan agama Islam ke seluruh nusantara, bahkan sampai ke wilayah Buton dan Filipina.
Terakhir adalah rempah yang menjadi representasi keseluruhan masyarakat Minangkabau yang bermacam-macam, seperti cengkeh, buah pala, dan kayu manis. Biasanya dikenal dengan istilah langkok. Rempah tersebut berfungsi sebagai pemberi sekaligus pengatur rasa pada Rendang masyarakat Minang secara umum terlihat sama, tetapi jika dilihat dari sudut pandang budaya terdapat keragaman yang ada di dalamnya sekalipun pada tingkatan nagari sebagai unit terkecil masyarakat Minang.
Mengenai asal usul rendang, Gusti Asnan memiliki pendapat yang mengatakan bahwa makanan ini berasal dari daratan India. Pendapat ini memiliki alasan karena adanya kemiripan di antara kalio (rendang yang masih bersantan) dengan masakan kari. Sebenarnya, masyarakat Minangkabau telah memiliki kontak yang cukup erat dengan orang-orang India.
Dalam bukunya, Dobbin (2008) menjelaskan para pedagang India telah menetap sejak abad ke-13 di wilayah pedalaman Minangkabau seperti Pariangan. Hal ini menunjukkan adanya kontak budaya dengan masyarakat India jika didasarkan pada bukti arkeologis dan tradisi lisan. Hal ini mendasari pendapat saya bahwa masyarakat tersebut juga ikut memberi pengaruh dalam terciptanya rendang yang terlihat dari rempah-rempah yang digunakan dalam bumbu masakan rendang.
Lanskap alam dan topografi wilayah mempunyai pengaruh dalam diferensiasi budaya suatu masyarakat. Wilayah Minangkabau secara adat dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu darek dan rantau. Darek merupakan wilayah inti dari Minangkabau yang terdiri dari lembah-lembah subur, sumber air terrestrial, dan diselingi oleh perbukitan. Hal ini merepresentasikan kehidupan budaya masyarakatnya yang dipengaruhi kehidupan pertanian (masyarakat agraris). Sementara itu, wilayah rantau dianggap sebagai jendela Minangkabau terhadap dunia luar yang merupakan kombinasi antara budaya maritim dan perdagangan. Di barat terdapat pantai barat Sumatera yang langsung menghadap Samudera Hindia sedangkan di bagian timur merupakan hulu dari sungai-sungai besar yang berhilir ke Selat Malaka seperti Sungai Siak, Sungai Kampar, dan Sungai Inderagiri (Dobbin, 2008: 3-11).
Kaitan rendang dengan jalur rempah nusantara dapat kita lihat dari hubungan perdagangan yang terjadi di daerah rantau tersebut. Keberadaan Malaka saat itu tidak dapat dipungkiri memengaruhi kehidupan budaya antar-masyarakat. Sebagai pusat perdagangan maritim, emporium Malaka menjadi tempat bertemunya para pedagang bersama komoditas dagang yang berasal dari timur ataupun barat. Sistem perdagangan ini membentang dari Laut Tengah di barat hingga Jepang di sisi sebaliknya. Keberadaan sungai-sungai besar di sebelah timur pulau Sumatra juga memiliki peran dalam membuka hubungan dagang antara wilayah dataran tinggi Minangkabau dan Malaka.
Dalam Sejarah Indonesia Modern, M.C Ricklefs menyebutkan bahwa rempah-rempah Indonesia merupakan salah satu hasil yang yang paling berharga dalam sistem ini. Hal itu diperkuat dengan berbagai catatan trayek dan komoditas dagang yang ditulis oleh Tome Pires. Lada sebagai salah satu rempah yang cukup sering muncul dalam trayek-trayek tersebut.
Kelak penyebaran rendang menjadi berkembang karena adanya budaya merantau. Sejalan dengan itu, Guru Besar Universitas Andalas, Gusti Asnan, mengatakan bahwa rendang menjadi tersebar karena budaya merantau yang dilakukan oleh urang awak. Rendang sangat cocok untuk dibawa pergi merantau karena sifatnya yang tahan lama. Sifat tahan lama ini berasal dari pemakaian rempah-rempah dan cara memasaknya. Para perantau hanya perlu menghangatkan rendang kembali ketika ia akan memakannya.
Di sini kita dapat melihat bagaimana proses terciptanya Rendang sangat dipengaruhi dengan keberadaan perdagangan dan hubungan yang baik antara penduduk asli dengan para pendatang. Hal ini meyakinkan saya bahwa jalur rempah ini patut dikaji secara lebih mendalam dan dapat memberikan kita pemahaman yang lebih baik mengenai budaya kita. Perdagangan memiliki peran yang tak dapat dipungkiri dalam menelusuri asal-usul budaya.
Rendang sebagai warisan jalur rempah Nusantara juga mengingatkan kita untuk selalu tetap berpegang teguh pada nilai-nilai toleransi dan harmonisasi antarkelompok pada suatu masyarakat. Seperti penggunaan bahan-bahan tersebut yang sesuai dengan kadarnya. Hendaknya kita juga begitu dalam kehidupan bermasyarakat, mengambil peran sesuai dengan standar dan kemampuan yang kita miliki. Rempahlah menjadi sebuah simpul dari keberagaman budaya yang ada di Nusantara.
Teks: M.Daffa’ Alfaridzi S
Ilustrasi: Sisilya Phang
Editor: Nada Salsabila
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor