
Tepuk tangan penonton pecah di penghujung pertunjukan. Rekaan yang dipentaskan lewat Teater Musikal Hal(aman) Kita? di Gedung Kesenian Miss Tjitjih pada 1–2 Agustus adalah potret kehidupan anak-anak di Tanah Merah (Tamer), Jakarta Utara. Karya panggung ini menjadi puncak kolaborasi antara Sanggar Anak Harapan (SAH) dan Pamflet Generasi dalam program Suka Ria Remaja.

Acara dibuka oleh sambutan dari Venny Asyita selaku pengurus SAH. Ia mengisahkan apa yang dialaminya selama belasan tahun mendampingi anak-anak di Tamer. Baginya, satu hal yang paling mahal di sana ialah harapan. “Melihat yang paling mahal di Tanah Merah itu adalah hope, harapan.”
Meski bantuan datang silih berganti, tetapi kenyataannya banyak inisiatif tidak berjalan dengan baik. “Karena ternyata isunya itu bukan cuman soal akses dan fasilitas, tapi hope. Tidak berani bermimpi itu sangat-sangat menyedihkan,” sambung Venny.
Seusai sekapur sirih, lampu auditorium meredup dan tirai panggung perlahan tersingkap. Cerita bermula dari Kevin, Jaka, Ani, Wati, dan anak-anak Tamer lainnya yang harus kehilangan lapangan bermain akibat alih fungsi lahan untuk tempat berbisnis orang dewasa. Tanpa banyak pilihan, anak-anak mencari area bermain yang baru. Gang-gang dan jalanan menjadi tempat pelarian terakhir. Namun, alih-alih diterima, kehadiran mereka justru dianggap sebagai gangguan. Hilangnya ruang aman mengantarkan mereka pada kerentanan yang berlapis, mulai dari menjadi korban kekerasan, terpapar penyalahgunaan narkoba, hingga putus sekolah.

Jesika, pemeran Sinta yang merupakan Mama Wati, mengaku dapat dengan mudah menghidupkan karakternya karena pernah mendapatkan perlakuan serupa. “Aku sering dapat perlakuan seperti [itu dari] Mama Sinta, jadi aku mungkin bisa leluasa untuk memerankannya.”
Ia berharap sajian teater ini dapat didengar oleh pihak berwenang untuk memperbaiki kondisi lingkungan tempat tinggal mereka, sehingga ada lahan bermain yang aman bagi anak-anak.
“Jangan jauh-jauh, kita tidak meminta apa-apa, tetapi lapangan yang dulu tempat anak-anak bermain sekarang sudah dipenuhi oleh air-air, sudah dijadikan pemancingan. Mungkin kita berharap ya adalah space untuk anak-anak bermain karena rentan sekali di sana. Mereka main ke jalanan, banyak korban anak-anak Tanah Merah ketabrak mobil-mobil besar, kontainer, bahkan adek saya pun termasuk ada di sana. Jadi, saya berharap banget ada tempat bermain yang aman,” ungkap Jesika.

Harapan Jesika itu sejalan dengan tujuan di balik lahirnya Hal(aman) Kita?. Sebab drama ini ditampilkan sebagai medium bagi mereka untuk menyuarakan realitas yang selama ini jarang terdengar.
rehann, Program Manager Suka Ria Remaja, menyebut arsip kisah ini dirakit dari pengalaman menubuh yang dialami sehari-hari oleh anak-anak di Tamer. “Di sisa waktu hari setelah gerbang sekolah ditutup dan gitar ngamen digantung, orang muda dan remaja yang terlibat dalam perakitan cerita itu percaya bahwa cerita pertunjukan ini bisa jadi usaha menghadirkan imajinasi alternatif.”
Ia juga menyatakan bahwa lakon ini digerakkan oleh semangat emansipatoris. Menurutnya, para remaja selama ini jarang memperoleh ruang untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik.
“Latihan teater ini digerakkan oleh napas emansipatoris oleh mereka yang sehari-hari nggak pernah dikasih kesempatan membayangkan hidup yang lebih baik sama negara. Boleh jadi, proses-proses ini menjadi rutinitas mengorganisir diri yang bisa memantik perubahan,” kata rehann.
Pembayangan itu diwujudkan melalui metode teater rakitan (devised theatre), yang tak hanya melibatkan Dikky Takiyudin selaku sutradara, tetapi turut mengikutsertakan seluruh anggota kelompok pementasan. Sebanyak 27 anak dan remaja dilibatkan dalam perancangan naskah dan konsep. Pendekatan ini menghargai kolektivitas dan partisipasi aktif seluruh pihak.
Walau pada akhirnya para anak yang dibantu mama-mama berhasil melengserkan proyek yang hendak dibangun, tanah tetap dirampas dan dinyatakan sebagai milik negara. Menutup cerita, seorang anak bernama Wati bertanya, “kita sudah bebas atau akan tergusur?” Kalimat itu menjadi penutup pagelaran, tetapi sekaligus menyisakan persoalan yang belum terjawab bagi anak-anak Tamer.

Catatan:
Berdasarkan permintaan narasumber, nama project manager ditulis tanpa huruf kapital sebagai anti-penokohan.
Teks: Dela Srilestari
Editor: Naswa Dwidayanti Khairunnisa
Foto: Dokumentasi Pamflet Generasi
Desain: Syahidah Nururrahmah
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Teks
Editor
Foto
Desain