Logo Suma

Menilik Fenomena Virtual Blind Date di Kalangan Mahasiswa

Redaksi Suara Mahasiswa · 4 November 2021
9 menit

Seiring dengan pandemi Covid-19 yang masih melanda, manusia tetap berusaha untuk menjalin hubungan asmara meskipun di tengah pemberlakuan pembatasan sosial dan fisik. Hal tersebut diwujudkan melalui pencarian pasangan secara daring. Mencari pasangan di ruang virtual umumnya dilakukan melalui aplikasi kencan daring seperti Tinder, Bumble, dan OkCupid. Penggunaan aplikasi-aplikasi ini selama pandemi pun mengalami peningkatan. Dilansir dari Fortune.com (12/02/21), pada Maret 2020, Tinder melaporkan angka usap (swipe) tertingginya yang mencapai tiga miliar kali. Sementara itu, penggunaan OkCupid meningkat sebanyak 700 persen dari Maret hingga Mei 2020, serta peningkatan sebesar 70 persen pada penggunaan mode video calls dalam Bumble. Di Indonesia sendiri, berdasarkan survei tentang aplikasi kencan daring yang dilakukan oleh Rakuten Insight pada September 2020, sebanyak hampir 58 persen responden menggunakan aplikasi Tinder.

Meskipun terjadi peningkatan pada penggunaan aplikasi kencan daring, tidak menutup kemungkinan untuk merasa ragu dalam menggunakannya karena berbagai kejahatan daring yang dapat merugikan pengguna. Dilansir dari survei Kaspersky pada Agustus 2021, 38 persen responden memilih untuk tidak menggunakan aplikasi kencan daring karena takut menjadi korban penipuan. Seiring dengan adanya ketidakpercayaan untuk melampirkan informasi pribadi pada aplikasi kencan daring, terdapat inovasi baru dalam dunia kencan daring, yakni berupa kencan buta virtual (virtual blind date) sebagai alternatif kencan online yang lebih tepercaya. Hal ini dilakukan agar pesertanya dapat merasa lebih aman dengan adanya aturan-aturan yang dibuat sebelum kencan buta dimulai.

Membangun Hubungan Awal melalui Virtual Blind Date

Menurut Clore dan Byrne (1974), asumsi paling fundamental mengenai ketertarikan interpersonal adalah bahwa kita tertarik pada orang lain yang kehadirannya bermanfaat bagi kita (Miller, 2015). Dengan demikian, Miller membagi beberapa faktor yang dapat menentukan ketertarikan seseorang. Faktor-faktor tersebut antara lain: proximity (kedekatan), physical attractiveness (ketertarikan fisik), reciprocity (timbal balik), similarity (kemiripan), dan barriers (halangan atau batasan).

Virtual blind date menjadi sebuah acara yang memiliki tujuan untuk memperkenalkan beberapa orang dengan cara tertutup. Dengan demikian, para peserta dapat mengenal atau bahkan membangun hubungan dengan peserta lainnya. Dari kegiatan tersebut, kami mencoba untuk mencari tahu bagaimana pengalaman para peserta virtual blind date dalam mencari seseorang untuk berkenalan ataupun membangun hubungan, serta apakah terdapat ketertarikan berdasarkan faktor yang telah dijelaskan sebelumnya.

Mengupas Motivasi Partisipan dalam Mengikuti Kegiatan Virtual Blind Date

Mengikuti virtual blind date mungkin menjadi hal yang cukup asing bagi orang-orang. Meskipun masih terkesan asing di kalangan masyarakat, virtual blind date tampaknya tetap dapat menarik perhatian orang-orang. Hal ini terlihat dari adanya partisipan yang bersedia untuk mengikuti kegiatan kencan buta tersebut meskipun secara daring. Untuk mengetahui alasan di balik ketertarikan tersebut, kami mencari sumber data nyata yang dilakukan dengan cara mewawancarai empat orang yang bersedia menjadi responden. Keempat responden merupakan mahasiswa Universitas Indonesia yang pernah mengikuti virtual blind date.

1) Responden Pertama
Responden pertama yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa ia baru pertama mengikuti virtual blind date. Dalam virtual blind date tersebut, ia mengatakan bahwa partisipan berasal dari kampus Universitas Indonesia (UI) yang dipasangkan dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mengetahui acara tersebut dari seorang rekannya yang berasal dari ITB. “Pertama dikasih tau temen. Kebetulan ada temen dari ITB dan dia kasih info postingan tersebut,” ucapnya.

Responden mengaku mengikuti virtual blind date tersebut atas motif yang dilandasi keisengan dan rasa penasaran saja. Meskipun ia hanya ingin mencari teman bicara, tetapi ia juga tidak menampik bahwa ia berharap dapat menemukan kekasih dari virtual blind date tersebut. “Cuma ya pengen juga siapa tau ada yang dapet sebagai pacar gitu kan, tapi nyari temen ngobrol aja sih,” ujarnya. Responden mengaku bahwa dirinya memang mendapat teman bicara pada saat itu, tetapi ia mengatakan bahwa orang-orang yang pernah ditemuinya dalam virtual blind date tersebut tidak saling menukarkan kontaknya sehingga ia tidak dapat melanjutkan percakapan setelah acara selesai. “Udahannya ngga pernah kontak lagi sama mereka karena ngga tukeran kontak sama mereka.” Responden mengaku hal tersebut terjadi akibat keterbatasan waktu yang diberikan oleh pihak penyelenggara. “...waktu terbatas jadi saya ngga sempet tukeran kontak karena keasikan ngobrol dan ngga tau namanya.”

Terkait pelaksanaan virtual blind date yang diikutinya, responden mengatakan bahwa sebelum virtual blind date dilakukan, peserta akan diberikan nomor kode yang berfungsi sebagai nama melalui email masing-masing peserta. Para peserta kemudian masuk ke dalam ruang virtual menggunakan fitur breakout room yang terdapat di aplikasi Zoom. Terkait waktu, responden mengatakan bahwa virtual blind date dilakukan dari pukul 19.30 hingga 21.00. Para peserta kemudian diberikan tiga kali kesempatan untuk bertukar lawan bicara dan diberikan waktu sebanyak 15 sampai 20 menit untuk satu sesi obrolan. Responden mengatakan bahwa pelaksanaan virtual blind date menjadi cukup lama akibat briefing yang diberikan oleh panitia terlalu memakan waktu ditambah dengan prosedur yang kurang efektif. “Lama dikumpulin dan dikasih aturannya gitu. Pas pindah zoom juga lama gitu dan ada link baru.” Meskipun tidak mengetahui secara pasti jumlah partisipan yang hadir, responden mengakui bahwa terdapat cukup banyak orang yang mengikuti virtual blind date tersebut.

Pada akhirnya, responden merasa kurang puas terkait pelaksanaan tersebut akibat peraturan yang terlalu rumit. Selain itu, pihak penyelenggara juga dirasa tidak menyampaikan peraturan secara jelas sehingga terdapat banyak kesalahpahaman. “Jujur kurang puas karena saya juga pertama kali ngerasa agak salah gitu, ngga sesuai peraturannya karena masih bingung dan rulesnya kurang jelas.” Namun, responden mengaku berminat untuk mengikuti virtual blind date lainnya di kemudian hari. Secara pribadi, responden menginginkan adanya penyelenggaraan virtual blind date yang para pesertanya hanya terdiri dari mahasiswa UI. “Kalo saya pribadi pengennya sih VBD UI sama UI sih,” tutupnya.

2) Responden Kedua
Kami mendapati responden lain yang ternyata juga mengikuti virtual blind date yang sama dengan responden pertama. Selaras dengan pernyataan responden pertama, responden kedua yang juga tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa dirinya hanya bosan dan belum pernah mengikuti virtual blind date apa pun sebelumnya. Ia mengatakan bahwa promosi terkait virtual blind date yang ia ikuti cukup sering muncul di media sosialnya. Namun, berlawanan dengan responden pertama, responden kedua mengaku bahwa ia tak menaruh ekspektasi apa pun ketika mengikuti virtual blind date tersebut. “Nothing to lose aja karena ekspektasi gue udah rendah bakal zonk dan ternyata bener,” pungkasnya.

Dalam pelaksanaannya, responden kedua juga memperoleh kode yang akan digunakan sebagai nama dalam virtual blind date tersebut. Responden kemudian juga ikut dikumpulkan ke dalam sebuah ruang virtual dengan menggunakan aplikasi Zoom. Responden mendapatkan tiga sesi kencan dengan menggunakan fitur breakout room yang terdapat dalam aplikasi Zoom. Kencan dilakukan dengan durasi selama sepuluh hingga lima belas menit dalam setiap sesinya.

Terkait kepuasan dalam mengikuti virtual blind date tersebut, responden merasa virtual blind date tersebut tidak memuaskan untuk diikuti. Lebih lanjut, responden mengatakan bahwa karakteristik pasangan yang ia dikenalkan oleh panitia tidak sesuai dengan apa yang sudah ia sampaikan saat mengisi borang registrasi peserta. “Gue nulis kriteria tapi ngga sesuai malah dipasangin sama maba (mahasiswa baru) 2021. Kriteria gue yang seumuran.” Namun, responden mengaku bahwa pada penutupan virtual blind date tersebut, peserta diberikan borang untuk mengetahui tingkat ketertarikan responden dengan pasangan yang diberikan. Responden mengaku bahwa ia bersedia untuk mengikuti kegiatan virtual blind date lainnya apabila ia sedang merasa bosan. “Kalo lagi gabut, mau ketawa-ketawa boleh lah,” ujarnya. Namun, secara keseluruhan, responden tidak menyarankan orang-orang untuk mengikuti kegiatan virtual blind date. Bahkan, ia lebih menyarankan orang-orang untuk bermain aplikasi kencan daring dibandingkan mengikuti virtual blind date. “Ngga usah deh karena orangnya tuh random dan ngga sefrekuensi. Mending Bumble,” tutupnya.

3) Responden Ketiga
Dari hasil pertanyaan yang sama sebelumnya, ini kali pertama responden ketiga mengikuti virtual blind date. Responden yang tidak berkenan untuk disebutkan identitasnya ini diajak oleh teman satu jurusannya. Ia tertarik karena konsep dari mata acara terkesan lucu dan menimbulkan rasa penasaran. Akan tetapi, ia sama sekali tak berekspektasi apapun mengenai kronologi acara, hanya berharap bahwa ia akan menemukan orang yang cocok dengannya.

Mekanisme pelaksanaan virtual blind date juga sama seperti responden pertama dan kedua. Acara dibuka dulu dengan intermezzo dan sedikit kuis untuk mencairkan suasana. Kemudian, para peserta masuk ke dalam breakout zoom sesuai dengan kode yang telah diberitahukan panitia melalui email. Mereka akan berpindah sebanyak tiga kali sehingga akan bertemu dengan tiga orang yang berbeda.

Responden ketiga mengatakan jika ia kurang puas dengan pelaksanaan acara. Ia tidak bertemu dengan orang-orang yang cocok dengannya, bahkan di breakout room ketiga, ia memutuskan untuk meninggalkan acara. Selain itu, penyelenggara acara juga kurang optimal. “Mereka kasih kita link dan kode breakout room tapi formatnya cc. Jadi gak masuk di inbox aku dan malah masuk di spam, aku aja pertama pikir kalo acara ini gak jadi.” keluhnya. Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut ia berminat apabila diadakan acara virtual blind date lagi jika memiliki waktu senggang, namun dengan kriteria domisili yang sama dengannya.

4) Responden Keempat
Respon keempat akan memberikan pandangan serta kesan yang berbeda dari responden-responden sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya ia ikut acara virtual blind date. Responden keempat memang sedang ingin mencari teman baru dan keadaan pandemi menghambat pergerakannya untuk mengenal orang-orang apalagi di kampus. Oleh karena itu, ketika temannya yang berasal dari ITB memberikan informasi mengenai acara tersebut, ia langsung tertarik untuk mendaftar. Ia kemudian mengajak responden ketiga untuk mengikuti acara tersebut.

Ketika melakukan riset mengenai acara tersebut lebih dalam, responden keempat mengaku hampir tidak jadi ikut. Berdasarkan bukti yang telah ia rogoh, event organizer tersebut belum memiliki testimoni untuk sebuah acara. “Gak cuma itu, kalo lo liat dari posternya pun juga sebenarnya kurang menarik bahkan email yang dikirim juga punya beberapa typo. Kalo kaya gini kan pasti kita akan mikir kalo ini scam,” jelasnya. Akan tetapi, ketika mereka mendeskripsikan peraturan yang mengharuskan untuk offcam dan memakai nama samaran membuat responden keempat setuju mengikuti acara tersebut karena keamanan identitas terjamin.

Seperti yang dipaparkan oleh ketiga responden di atas, acara diisi oleh pembukaan kemudian masuk ke dalam breakout zoom sesuai dengan kode yang telah diberikan. Ketika memasuki breakout zoom, pasangan dilarang untuk menyalakan kamera kecuali atas izin kedua belah pihak. Mereka juga dilarang untuk saling bertukar sosial media. Sosial media diberikan apabila nanti di akhir acara saat mengisi formulir, keduanya menyetujui untuk bertukar informasi, maka panitia akan memberikan kontaknya.

Responden empat mengaku puas dengan jalannya acara virtual blind date tersebut. “Dari tiga yang dikasih panitia, gue klop banget sama orang pertama dan kedua.” ujarnya. Sebelum mengikuti acara tersebut peserta akan diminta mengisi kriteria pasangan yang dicari dan responden keempat mengaku bahwa panitia telah berhasil menyesuaikan kriterianya. Walaupun pada akhirnya responden keempat tidak mendapatkan pasangan secara resmi, acara ini merupakan pengalaman yang seru untuk bertemu orang baru. Responden keempat akan sangat berminat untuk mengikuti kegiatan seperti ini juga apabila event organizer yang mengadakan lebih terpercaya.

Berangkat dari keempat pernyataan tersebut, dapat terlihat bahwa virtual blind date cukup diminati oleh beberapa orang sebagai alternatif untuk mencari pasangan pada masa pandemi saat ini. Konsep kencan buta yang dilaksanakan secara virtual menjadi hal baru yang menarik rasa penasaran orang-orang. Selain itu, promosi yang dilakukan secara virtual juga cukup mampu menjangkau orang-orang dalam mengikuti kegiatan tersebut.

Namun demikian, pelaksanaan virtual blind date yang cukup baru masih diselimuti oleh kendala-kendala yang menyulitkan para pesertanya. Penyampaian aturan dan pelaksanaan acara yang dirasa kurang matang masih harus diperbaiki agar dapat membuat orang merasa puas ketika mengikuti kegiatan tersebut. Selain itu, pihak penyelenggara juga harus dapat memasangkan kedua calon pasangan dengan kriteria yang sesuai seperti yang telah dituliskan sebelumnya.

Dari hasil yang didapat, keempat responden yang pada awalnya tertarik mengikuti virtual blind date. Namun, pada akhirnya virtual blind date masih cukup mengecewakan dengan banyaknya permasalahan yang dialami. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengembangan dan perbaikan terhadap pelaksanaan virtual blind date. Apabila hal ini dapat diatasi, maka bukan tidak mungkin virtual blind date dapat menjadi alternatif pencarian pasangan di masa depan.

Pencapaian Virtual Blind Date untuk Menumbuhkan Ketertarikan pada Partisipan

Virtual blind date sebagai sebuah acara yang mewadahi para pesertanya untuk mengenal peserta lain dan membangun suatu hubungan memiliki beberapa kendala atau hambatan dalam pelaksanaannya. Hal tersebut membuat para peserta virtual blind date juga merasakan kesulitan dalam mencari seseorang yang menarik bagi beberapa peserta. Namun, terdapat beberapa peserta yang merasa puas dengan acara virtual blind date, di mana acara tersebut telah berhasil mempertemukannya dengan kriteria seseorang yang sesuai. Beberapa peserta dalam acara virtual blind date memiliki keterbatasan dalam memenuhi faktor-faktor yang dapat membentuk ketertarikan seperti yang dijelaskan Miller (2015). Dari hasil wawancara tersebut, para peserta tidak terlalu bisa merasakan proximity (kedekatan) dikarenakan waktu di virtual blind date yang dibagi menjadi berbagai sesi dengan setiap sesi sangat pendek. Selain itu, adanya pergantian (rolling) peserta di dalam tiap sesi menjadi hal lain yang bisa membatasi kedekatan antara satu peserta dan peserta yang lain. Adanya aturan offcam di dalam virtual blind date membawa kita pada faktor ketertarikan selanjutnya menurut Miller (2015), yaitu physical attractiveness (ketertarikan fisik). Bagi sebagian orang, aturan offcam sebenarnya merupakan alternatif bagi peserta agar tidak merasa kurang percaya diri dengan dirinya atau menghindari kemungkinan untuk mengalami celaan secara fisik. Namun, jika merujuk kepada teori ketertarikan Miller (2015), aturan offcam dapat mengeliminasi munculnya ketertarikan seseorang kepada orang lain dalam segi fisik.

Faktor-faktor ketertarikan yang memungkinkan untuk dicapai melalui virtual blind date adalah reciprocity, similarity, dan barriers. Terjadinya saling komunikasi dua arah di mana peserta kencan buta bergantian mengajukan pertanyaan dan menjawab mengindikasikan adanya komunikasi dua arah atau timbal balik. Similarity (persamaan) merupakan faktor ketertarikan yang dapat dicapai ketika para peserta virtual blind date menemukan bahwa mereka memiliki persamaan. Contohnya saat peserta sama-sama merupakan mahasiswa dari angkatan yang sama atau saat mengobrol peserta menemukan bahwa mereka memiliki selera musik atau film yang sama. Persamaan-persamaan tersebut, seperti yang dikemukakan salah satu responden, akan membuat peserta saling merasa klop. Terakhir, halangan dan batasan yang muncul saat virtual blind date seperti keterbatasan waktu juga dapat menimbulkan ketertarikan. Terlepas dari teori ketertarikan ini, virtual blind date agaknya tetap bisa menjadi alternatif bagi manusia untuk tetap dapat terkoneksi satu sama lain, khususnya di masa pandemi seperti sekarang.

Referensi

Fortune Editors. (2021). Activity on dating apps has surged during the pandemic. Fortune.com. https://fortune.com/2021/02/12/covid-pandemic-online-dating-apps-usage-tinder-okcupid-bumble-meet-group/

Hanifa, FD. (2021). Online Dating di Kala Pandemi, Apa Kata Mereka?. Suaramahasiswa.com. https://suaramahasiswa.com/online-dating-di-kala-pandemi-apa-kata-mereka

Kaspersky. (2021). To date or not to date: 38% of people have never used dating apps because they are afraid of scammers. Kaspersky. https://www.kaspersky.com/about/press-releases/2021_to-date-or-not-to-date-38-of-people-have-never-used-dating-apps-because-they-are-afraid-of-scammers

Miller, RS. (2015). Intimate Relationships (7th Edition). New York: McGraw-Hill Education.

Teks: Alifya, Audito, Aura, Dimas, dan Karina
Ilustrasi: Rizal Taufiqurrafi
Editor: Ruth Margaretha

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!